Teknologi yang Muncul saat Pandemi Covid 19

Seperti pada masa pandemi virus Covid 19 yang sekarang ini menjadi sebuah hal yang sedang melanda dunia, peran teknologi juga turut ikut andil dalam memerangi virus tersebut. Banyak sekarang ini perusahaan di dunia yang berlomba menciptakan teknologi untuk membantu manusia dalam melawan virus tersebut dan berharap pandemi ini dapat segera usai.

Teknologi yang Muncul saat Pandemi Covid 19

Kecanggihan teknologi menjadi sebuah hal yang juga turut berkontribusi dalam membantu memerangi virus Covid-19 di masa pandemi. Beberapa perusahan juga sudah mulai berinovasi dalam menciptakan produk teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk melawan virus Covid-19. Produk yang diciptakan pun juga cukup beragam seperti aplikasi, perangkat pintar, hingga sebuah drone yang digunakan untuk mengantar kebutuhan tenaga medis. Untuk mengetahui apa saja teknologi yang turut berperan dalam melawan virus Covid-19, berikut ini kami sudah merangkum beberapa di antaranya dibawah ini.

Aplikasi pelacakan virus corona

Aplikasi yang dibuat oleh Google dan juga Apple, penggunanya akan memperoleh peringatan terkait wilayah dan juga orang-orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus Covid 19, juga aplikasi ini mampu melacak jejak dan merekam riwayat interaksi sosial dari penggunanya. Sistem ini memanfaatkan koneksi Bluetooth Low Energy (BLE) sebagai medium untuk dapat melakukan sebuah pelacakan orang-orang yang berada di sekitar ponsel pengguna.

Gelang pintar

Gelang tersebut dirancang khusus untuk memantau kondisi kesehatan dari para penggunanya, seperti pengecekan temperatur badan secara langsung dan untuk dapat mengetahui apakah ada sebuah gejala demam ataukah tidak. Apabila pengguna nantinya mengalami masalah kesehatan, aplikasi tersebut juga akan memberikan sebuah peringatan dan merekomendasi pengguna untuk melakukan sebuah tindakan lebih lanjut. Statistik dari suhu badan yang dideteksi oleh gelang tersebut akan diupload ke smartphone melalui jaringan dan koneksi bluetooth.

Thermal Scanner

Thermal scanner merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengetahui suhu pada sebuah objek dengan menggunakan teknologi Focal Plane Array (FPA) sebagai sebuah detektor untuk dapat menerima sinyal infra merah. Thermal scanner ini nantinya akan dapat mendeteksi suhu dengan menghasilkan output berupa sebuah cahaya warna-warni. Suhu objek yang telah ditangkap akan menunjukkan warna yang juga berbeda-beda. Untuk suhu yang lebih dingin dimunculkan dengan warna biru, ungu, dan juga warna hijau. Sedangkan suhu yang lebih hangat nantinya akan diberi warna merah, oranye, dan kuning.

Artificial Intelligence (AI)

Artificial Intelligence (AI) salah satu teknologi yang dirancang untuk mengidentifikasi pola pergerakan dari penyebaran virus Covid-19. Namun, untuk membantu sebuah diagnosa, perlu menggunakan perhitungan dari algoritma dengan melakukan sebuah analisa lewat CT Scan.

Seperti yang ada di China, AI digunakan untuk dapat membantu para tenaga medis melakukan identifikasi dan juga digunakan untuk dapat membedakan hasil scan pneumonia. Sebelumnya perusahaan asal Israel yaitu Coresight AI, juga dikabarkan sedang mengembangkan teknologi pemindai wajah yang nantinya dapat mendeteksi meski sedang menggunakan penutup wajah.

Drone

Saat pandemi seperti Covid-19 saat ini, drone menjadi sebuah alat yang beralih fungsi untuk menggantikan tenaga manusia dalam mengantar dan mengambil sesuatu. Drone difungsikan untuk menjembatani rumah sakit dengan rumah warga untuk dapat mengantarkan kebutuhan medis yang diperlukan. Perusahaan teknologi bernama Antwork dari China melakukan proses pengiriman logistik untuk keperluan tenaga medis yang ada di China.

Selain itu salah satu kampus yang berada di wilayah Carolina Utara AS memanfaatkan drone sendiri untuk dapat mengantarkan hasil sampel uji Covid-19 ke rumah sakit yang berada di pusat kota. Pihak kepolisian yang ada di Paris dan India juga memanfaatkan drone yang digunakan untuk menegakkan aturan karantina wilayah.

Robot

Business Breakthrough University yang berlokasi di Jepang memanfaatkan robot untuk dapat menggantikan para wisudawan dalam menjalani wisuda. Robot bernama Newme tersebut dipakaikan sebuah kain toga berwarna hitam yang menyerupai seorang mahasiswa yang tengah mengikuti wisuda. Wajah para wisudawan secara bergantian akan ditampilkan pada layar yang telah dipasang di bagian atas robot tersebut.

Rumah Sakit Circolo di Italia menggunakan robot juga untuk membantu para tenaga medis dalam menangani pasien virus Covid 19. Robot tersebut bertugas untuk dapat memantau kondisi pasien dari peralatan di ruangan kemudian menyampaikannya ke staf yang ada di rumah sakit. Tak hanya itu saja, sebuah cafe yang berlokasi di wilayah Daejeon, Korea Selatan juga memanfaatkan robot sebagai pengganti dari barista dan waiter untuk melayani para pelanggannya.

Alarm Social Distancing

Dengan pemerintah yang terus mengimbau agar masyarakatnya tetap menerapkan aturan jaga jarak, penemu telah menciptakan sebuah sistem alarm yang aktif ketika ada dua orang yang terlalu dekat satu sama lain. Meta Touch di Universitas Science and Innovation Park UEA telah mengembangkan sebuah sistem menggunakan kamera termal untuk dapat mendeteksi dimana orang berada. Kamera tidak merekam detail wajah, jadi keamanan privasi nantinya tetap terjaga. Alarm ini nantinya hanya akan menjadi sebuah pengingat yang berbunyi ketika orang menjadi sangat dekat satu sama lain.

The Hygiene Hook

The hygiene hook merupakan sebuah alat yang dapat membantu kita untuk mengurangi bersentuhan langsung dengan sebuah permukaan benda. Beberapa produk memiliki sebuah permukaan datar kecil di ujungnya sehingga dapat memungkinkan seseorang nantinya dapat digunakan untuk menekan tombol pada lift atau memencet kunci pada mesin ATM. The Hygiene Hook ini nantinya dapat dengan mudah dicuci karena biasanya terbuat dari bahan yang tidak berpori seperti plastik ataupun juga logam.

Lampu pembunuh bakteri (Germicidal lamp)

Benda yang satu ini sebenarnya barang lama yang jadi populer karena pandemi Covid-19 saat ini. Lampu pembunuh bakteri ini sudah lama digunakan di laboratorium, berbagai industri makanan dan juga beberapa industri lainya yang membutuhkan sebuah alat untuk dapat mensterilkan peralatan kerja dan juga bahan baku. Lampu ini akan memancarkan sinar ultra violet C (UVC), yang memiliki sebuah kemampuan memandulkan virus, bakteri, dan juga segala bentuk kuman penyakit, sehingga juga makhluk-makhluk agar dapat berkembang biak. Sebagai alat pembasmi bakteri, germicidal lamp ini dipuji menjadi sebuah alat yang sangat efektif, sehingga marak digunakan.

E-Learning Platform Teknologi selama COVID-19

Aspek pendidikan juga menjadi sebuah situs s128 hal yang terdampak saat pandemi. Kegiatan belajar mengajar yang umumnya diterapkan dengan tatap muka fisik sekarang menjadi kurang efektif karena hadirnya sebuah rasa takut akan tertular virus dari orang lain. Demi mengurangi risiko tersebut, berbagai platform e-learning sekarang telah hadir untuk digunakan para pelajar maupun juga digunakan oleh mahasiswa yang melakukan persiapan kuliah.

Meskipun hanya di rumah, pembelajaran nantinya masih tetap dapat berjalan dengan cara yang tidak kalah menyenangkan dibandingkan dengan tatap muka secara langsung di dalam ruang kelas.

Demikian itulah beberapa teknologi yang berinovasi di tengah pandemi. Banyak beberapa teknologi baru yang diciptakan untuk dapat memudahkan kebutuhan manusia pada saat pandemi sekarang ini. Beberapa di antaranya berguna agar penyebaran virus covid 19 tidak terjadi.

Tentang Pemilu AS Sistem Electoral College

Perhitungan suara di dalam Pemilu AS 2020 telah usai. Joe Biden yang telah berhasil memenangkan pemilu setelah mengumpulkan sebanyak 290 suara elektoral. Biden terpilih sebagai Presiden AS ke-46 dengan mengungguli Donald Trump yang hanya memperoleh 214 suara elektoral di AS. Joe Biden berhasil mengalahkan Donald Trump di dalam Pemilu 2020. Ia dan wakilnya, Kamala Harris, resmi terpilih dan akan segera dilantik pada Januari 2021 mendatang.

Pemilu AS 2020 rupanya berhasil mencatat berbagai macam sejarah baru. Kemenangan Biden berhasil memecah rekor Trump sebagai presiden tertua. Saat dilantik nanti pada 20 Januari 2021, Biden yang akan berusia 78 tahun. Ini berarti Trump menjadi presiden pertama yang tidak terpilih lagi untuk masa jabatannya yang kedua sejak 1990-an.

Tentang Pemilu AS Sistem Electoral College

Kemenangan Biden yang tidak lepas dari keberhasilan politikus Demokrat meraih pemilih di dua negara bagian yang terjadi pada Pilpres 2016 yang saat itu menjadi lumbung suara bagi Trump Michigan dan juga Pennsylvania. Meskipun ada tudingan kecurangan yang dilontarkan oleh Trump serta Partai Republik yang meminta Mahkamah Agung menghentikan jalannya perhitungan suara di dua negara bagian itu, kemenangan Biden di Pilpres AS 2020 tetap tidak terbendung. Biden dan Harris mereka akan resmi dilantik sebagai presiden dan wakil presiden Amerika serikat yang ke-46 pada 2021. Berikut ini adalah beberapa fakta menarik tentang Sistem Electoral College yang berhasil memenangkan Biden-Haris dalam Pemilu AS.

1. Meraih Terbanyak Sepanjang Sejarah Pemilu AS

Kemenangan Joe Biden dan juga Kamala Harris sudah berhasil mencatat sejarah baru di dalam Pemilu AS. Keduanya sudah berhasil memperoleh popular votes atau sebuah suara populer terbanyak yang terjadi sepanjang sejarah dalam pemilu AS. Diketahui sebanyak 75,404,182 suara populer sudah berhasil diperoleh oleh Biden dan juga Harris dari total sekitar 165 juta suara dari penduduk AS. Angka ini bahkan jauh melampaui total suara populer yang dahulu pernah diperoleh oleh Barack Obama yaitu 69.498.516 suara. Sementara itu, Donald Trump memperoleh sebanyak 70,903,094 suara. Biden-Harris juga menak secara telak dengan raihan 290 suara elektoral dari 25 negara bagian dan Trump sendiri berhasil meraih 214 suara.

2. Joe Biden jadi Presiden Paling Tua AS

Tidak hanya mencetak rekor dalam perolehan suara populer, Joe Biden juga berhasil mencatat rekor baru dengan menjadi seorang presiden tertua dalam sejarah kepemimpinan AS. Joe Biden yang Lahir pada 20 November 1942, berarti pada saat usianya telah menginjak 78 tahun dirinya sudah resmi dilantik menjadi Presiden AS. Sebelumnya presiden tertua AS sendiri dipegang oleh Ronald Reagen, yang berusia 77 tahun saat dirinya meninggalkan jabatannya yaitu pada tahun 1989.

3. Kali Ketiga Mencalonkan Sebagai Presiden AS

Pemilu 2020 merupakan ketiga kalinya Joe Biden mencalonkan dirinya sebagai calon presiden AS. Joe Biden yang dahulu pertama kali melakukan pencalonan menjadi seorang presiden Amerika Serikat pada tahun 1987, kemudian dirinya kembali mencalon lagi pada tahun 2008.

4. Menarik Simpati Pemilih Muslim

Biden yang telah berhasil merangkul pemilih Muslim serta mereka para imigran pada pemilihan yang dilakukan 3 November lalu. Council on American-Islamic Relations (CAIR) yang merupakan salah satu organisasi hak sipil dan advokasi Muslim terbesar yang ada di Amerika Serikat, merilis hasil polling pilpres AS 2020 pada Selasa (3/11/2020). Hasilnya menunjukkan jika lebih dari 69 persen Muslim AS, mereka mendukung Biden sementara 17 persen lainnya memilih Trump.

Biden yang juga telah berhasil menarik berbagai simpati pemilih Muslim Dalam kampanyenya, Biden menarik simpati pemilih Muslim usai dirinya mengutip hadist Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan setiap Muslim untuk dapat mencegah keburukan dalam kampanyenya. Seperti yang dirinya sampaikan “ Barang siapa di antara kamu yang melihat sebuah kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan mu dan jika tidak sanggup lakukan dengan lisanmu, Jika masih tiada sanggup ubah dengan hatimu.

5. Kamala Harris Wakil Presiden Wanita Kulit Hitam Pertama AS

Tidak hanya Joe Biden, Wakil Presiden AS terpilih juga ikut mencatat dua sejarah baru secara sekaligus di AS. Dia menjadi wanita pertama dan juga warga AS keturunan kulit hitam pertama yang menjabat sebagai wakil presiden dari AS. Wanita hebat berusia 56 tahun ini lahir dari pasangan imigran Amerika Serikat, ayahnya dari Jamaika dan ibunya yang berasal dari India. Kamala Harris kemudian bermigrasi ke Amerika Serikat untuk menempuh studinya di Negeri Paman Sam itu.
Terakhir, Kamala Harris menduduki jabatan sebagai seorang Senator dan mantan Jaksa Agung di negara bagian California.

6. Mantan Wakil Presiden ke-15 Menjadi Presiden AS

Selain akan menjadi seorang Presiden tertua AS, Joe Biden akan menambah rekor dari jajaran mantan Wakil Presiden AS yang berhasil menduduki jabatan sebagai Presiden Amerika Serikat. John Adam adalah Wakil Presiden AS pertama yang juga terpilih sebagai Presiden AS ke-6.

7. Trump, Presiden Dengan Masa Jabatan 1 Periode

Kekalahan dari Donald Trump pada Pemilu Amerika Serikat yang dilakukan pada tahun ini, akan mencatatkan fakta jika Trump sebagai Presiden AS dengan masa jabatan 1 tahun setelah George HW Bush yang menjabat sebagai Presiden AS ke-41 yang ada pada tahun 1989. Presiden AS setelah George HW Bush selalu menjadi Presiden dengan masa jabatan sebanyak dua kali.

Bill Clinton, George W Bush dan juga Barack Obama, adalah Presiden incumbent yang kembali terpilih pada pencalonan kedua mereka. Donald Trump adalah Presiden AS ke-45 dilantik pada 20 Januari 2017 lalu. Jika pelantikan Joe Biden nantinya akan di laksanakan pada 20 Januari 2021, maka masa jabatan Trump sebagai seorang Presiden AS ke-45 adalah 4 tahun 72 hari.

8. Pemilu AS di masa Pandemi

Pemilu Presiden Amerika Serikat yang dilakukan pada tahun 2020 berlangsung dalam masa pandemi Covid-19. Pandemi virus corona yang masih terjadi, telah berhasil menewaskan lebih dari 200.000 orang di AS dan telah menjadi sebuah isu utama dalam pemilu Presiden AS 2020. Donald Trump juga sempat dinyatakan jika dirinya positif Covid-19. Pengalaman pelaksanaan pemilu Amerika Serikat di masa pandemi, ternyata dahulu pernah terjadi pada tahun 1918. Pemilihan pada tahun 1918 tersebut berlangsung selama pandemi flu Spanyol melanda.

9. Pengacara Trump Batalkan Gugatan di Arizona

Pengacara Trump pada akhirnya membatalkan gugatannya di Arizona Di saat yang bersamaan juga, pengacara kampanye Trump membatalkan gugatannya di layangkan di Arizona setelah penghitungan suara akhir diperdebatkan. Pejabat keamanan pemilu federa, mereka mengatakan tidak ada bukti yang cukup valid yang dapat menunjukkan jika sistem pemungutan suara menghapus, mengubah atau menghilangkan suara seperti yang dituduhkan oleh pihak Trump.

Demikian itulah beberapa fakta menarik yang ada di dalam kemenangan Joe Biden dan Kamala Haris sebagai presiden AS. Pemilu AS yang terjadi pada tahun 2020 telah mencetak banyak sejarah baru. Semoga dengan terpilihnya Biden-Haris dapat memberikan dampak baik untuk semuanya, karena seperti yang kita tahu bahwa negara Amerika Serikat adalah negara dengan kekuasan yang cukup besar.

Apa Saja yang Kita Hadapi di Era “New Normal”

“New normal” sendiri yang dimana barangkali adalah buzz word yang tentunya sekarang ini menjadi salah satu hal yang paling sering kita dengar dalam beberapa minggu ke belakang ini. Apa itu, dan bagaimana kah cara menghadapinya? Ini yang dimana ternyata bukan kali pertama dunia “dipaksa” untuk dapat berubah pasca pandemi. Pada saat pandemi dari flu yang ada di tahun 1918, misalnya, kebiasaan meludah dan juga ketersediaan kendi meludah (spittoon) yang dimana menjadi salah satu hal yang dianggap umum pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang kemudian sekejap menghilang. “New normal” yang digadang-gadang di media ini yang dimana berbicara tentang sebuah perubahan transformatif secara global yang dilakukan dalam sekejap tentang apa-apa yang dimana sebelumnya kita anggap normal. Boleh dibilang, dimana “new normal” ini serupa “trauma” massal yang dilakukan bersama.

Apa Saja yang Kita Hadapi di Era “New Normal”

Seperti apa tentang yang diungkapkan WHO pada judi bola online pertengahan bulan Mei yang lalu, dimana penemuan vaksin dan juga obat untuk novel coronavirus akan menjadi sebuah hal yang memakan waktu, dan kita yang nantinya harus bersiap untuk sebuah dunia di mana virus ini mungkin menjadi sebuah hal yang takkan pernah punah hanya saja “turun kasta” menjadi endemi. Di dunia ini, dimana kitalah yang perlu mengubah tentang bagaimana kita nantinya hidup dan dilakukan secara kronis. Selayaknya dari sebuah perubahan global, dimana era new normal menjadi sebuah hal yang kemudian mempengaruhi mulai dari sebuah kehidupan individu sehari-hari hingga yang ada pada tingkatan industri, budaya, dan juga negara.

Sementara dimana banyak ahli yang kemudian memprediksi baik aspek yang optimis maupun juga yang pesimis dari hal new normal ini, kita yang dimana nantinya juga perlu bersiap-siap mengadopsi sebuah kebiasaan-kebiasaan baru yang ada dalam menghadapi dunia yang baru ini. Sanitation kit yang yang dimana nantinya akan terdiri dari sebuah cairan pembersih, masker, dan juga dari sebuah strip pengukur suhu tubuh yang dimana nantinya akan menjadi sebuah barang bawaan umum. Beberapa desainer dari produk dan dimana industri dari sebuah kesehatan yang ada di dunia yang dimana sudah bersiap untuk menyediakan sebuah sanitation kit yang dimana nantinya menjadi sebuah hal yang akan mudah diakses publik dan mudah dibawa ke mana-mana, misalnya saja seperti kapsul buatan Kiran Zhu di atas. Sediakan juga seluruh kebutuhan dari sanitasi pribadi yang dimana ada dalam sebuah pouch anda dimanapun nantinya Anda pergi.

Pengenaan masker akan menjadi “new fashion”

Penggunaan kata fashion untuk dapat merujuk kepada masker yang dimana nantinya juga memang sebuah kontroversial, mengingat bahwa ia sendiri adalah item yang tentunya sepenuhnya fungsional dan bukan estetik. Meski demikian, dimana mengenakan masker akan menjadi sebuah hal yang amat normal terutama jika di gunakan di tempat-tempat umum yang cukup padat seperti halnya stasiun, bandara, transportasi publik, mal, dan kampus, dan lain juga sebagainya. Selain itu, untuk hal ini bersiap-siaplah dunia fashion dan juga teknologi yang dimana nantinya akan berlomba-lomba mengkreasikan masker wajah yang tercantik dan teraman untuk publik.

Intrusi “workplace” bagi kaum kerah putih

Meskipun beberapa industri yang dimana telah biasa menerapkan sistem kerja remote bahkan juga sebelum pandemi merebak, sistem kerja ini yang dimana menjadi sebuah sistem kerja yang belum tersebar secara merata pada kebanyakkan budaya dan industri. Sistem jarak jauh ini yang dimana menjadi salah satu hal yang nantinya akan semakin umum ditemukan sehingga pertemuan tatap muka yang dimana hanya dilakukan pada sebuah situasi-situasi terbatas. Anda yang juga sudah mulai terpengaruh dan awas tentang semua batasan rumah sebagai area dari “workplace” dan juga “safe haven”. Triknya? Dedikasikan hanya pada satu pojok dalam rumah untuk dapat bekerja dan disiplin dalam menetapkan sebuah jam kerja Anda, dan juga jangan melanggar batasan psikis ini.
Penurunan tingkat mobilisasi

Sementara ini kita yang dimana sekarang ini sudah mulai membiasakan diri kita dengan video conference, new normal sendiri yang ideal ini yang hanya akan memerlukan kita untuk berkomputer hanya untuk hal-hal yang amat penting saja. Di paris sendiri, dimana masyarakat yang menghindari sebuah kepadatan transportasi publik juga yang dimana diantaranya mereka dapat memilih untuk bersepeda dalam jarak-jarak terbatas. The Guardian yang dimana juga menyebutkan bahwa perusahaan perlu juga mempersiapkan rantai pasok yang resilien untuk dapat mempertahankan sebuah stabilitas ekonomi, serta juga sebuah perjalanan udara yang dimana akan menjadi sebuah hal yang kembali menjadi sebuah kemewahan.

Masa depan gaya hidup

Bersentuhan, berbagi sebuah alat-alat, dan berdesak-desakan akan menjadi sebuah hal yang akan terasa jauh lebih tak nyaman dari biasanya. Berpelukan, cium pipi, dan juga sekadar berjabat tangan sebagai sebuah bentuk sapaan lama-kelamaan yang dimana nantinya menjadi sebuah hal yang akan mulai menemukan alternatif lain. Sementara pesta yang bergaya buffet dan bar yang dimana nantinya akan dihindari, restoran, bar, karaoke, dan juga hotel juga perlu mengubah model bisnis untuk sebuah pengalaman hiburan yang lebih terpersonalisasi dan juga lebih higienis.

Berapa banyak orang dalam ruangan?

Dibandingkan dengan sebuah tempat terbuka, tempat tertutup yang dimana menjadi sebuah hal yang dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit yang menular. Kelas dan grup kecil yang ada di sekolah, pembatasan jumlah penonton konser dan juga pertandingan olah raga, serta juga tentang semua penurunan jumlah penumpang yang ada dalam transportasi darat, laut, dan juga udara yag dimana nantinya akan berlangsung setidaknya sampai dengan beberapa tahun ke depan. Selain itu, dimana protokol seperti pengenaan masker dan juga ruang disinfektan UV yang juga akan menjadi sebuah hal yang akan ditekankan pada beberapa event-event massal yang ada dunia yang dimana tak bisa dihilangkan begitu saja.

Kesehatan adalah kemewahan terbaik

Beberapa studi dunia yang dimana nantinya juga dapat mengungkapkan bahwa industri high fashion, luxury, dan juga travel atau juga hospitality yang dimana menjadi salah satu hal yang masih akan terseok-seok hingga beberapa tahun ke depan. Hal yang menjadi utamanya karena kita yang dimana telah mulai mengadopsi pola konsumsi yang sekarang ini berbeda. Sederhana saja; dalam dua bulan ke belakang, dimana untuk apa Anda menghabiskan uang belanja Anda nantinya ? Kebanyakan orang yang dimana akan memilih untuk hanya membeli kebutuhan-kebutuhan dasar dan juga akan mengurangi konsumsi untuk hal-hal tersier seperti halnya plesir dan juga tentang tas mewah, misalnya. Untuk kedepannya kita yang nantinya juga akan lebih banyak berinvestasi untuk sebuah kesehatan dan juga menabung sebagai bentuk preventif ekonomi yang dimana kurang stabil.

Itulah beberapa hal yang sekarang sudah mulai kita jalani di dalam Era New Normal ini. Dimana di Era ini kita yang harus dipaksa mengikuti sebuah kebiasaan untuk sebuah kelangsungan hidup ditengah pandemi seperti sekarang ini.

Elon Musk Dan Inovasi Chip yang Ditanam di Otak

Inovasi Elon Musk dalam teknologi

Perusahaan neuroteknologi yang dibesut oleh sosok terkenal Elon Musk, Neuralink baru-baru ini menginformasikan upaya demonstrasinya dalam dunia teknologi. Upaya ini mengerjakan suatu implementasi chip untuk keperluan brain-machine interface (BMI) di dalam otak. Demonstrasi tersebut ditayangkan secara langsung melalui kanal YouTube Neuralink belum lama ini, tepatnya pada Sabtu 29 Agustus 2020 di pagi hari waktu setempat. Dalam upaya mendemonstrasikan penemuan ini, para anggota dari tim peneliti yang terdapat di Neuralink juga turut serta  melibatkan seekor babi yang dinamai Gertrude. Babi percobaan ini telah dipasangi alat pemantaunya untuk keperluan penelitian. Alat ini berfungsi untuk merekam sinyal dari area otak dari makhluk tersebut yang terhubung melalui area moncongnya.

Saat diperagakan, produk implan tersebut dikatakan oleh para peneliti telah terpasang selama dua bulan penuh di tubuh hewan percobaan tersebut. Di kala moncong Gertrude menyentuh suatu benda, serangkaian titik dan suara terindikasi ketika lebih banyak neuron diaktifkan. Seekor babi memiliki bagian dari situs sbobet88 casino yang luas di otak yang dikhususkan untuk moncong atau hidung yang menjadi instrumen penginderaan sensitif. Desain chip Neuralink telah berubah sejak pertama kali diperkenalkan tahun lalu. Saat demonstrasi, chip tersebut dirancang seperti koin agar bisa diletakkan sejajar dengan tengkorak, bukan module kecil yang diletakan dekat telinga.

Harapan dan tujuan dari teknologi ini

Tujuan utama pembuatan chip ini adalah untuk menggabungkan otak manusia dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence/AI. Namun, sejauh ini Musk belum menguji coba metode ini ke manusia. Musk mengklaim bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat telah menyatakan teknologi Neurolink sebagai terobosan yang memungkinkan mereka untuk mendapat umpan balik dari pengembangan program BMI. Dirangkum KompasTekno dari The Verge, Neuralink tidak menciptakan BMI. Kontribusi utama perusahaan ini terhadap BMI adalah kabel tipis serupa serat yang fleksibel berlapis elektroda yang digunakan untuk mengambil aktivitas otak.

Kabel-kabel halus tersebut memiliki lebih banyak elektroda yang artinya bisa lebih banyak memuat informasi. Masalahnya, benda asing yang tertanam di otak akan menurun seiring waktu dan benda yang lebih kecil akan rusak lebih cepat. Salah satu tim Neuralink dalam presentasi mengatakan salah satu tantangan utama adalah memastikan perangkat bisa bertahan beberapa dekade di area korosif seperti otak.

Musk mengatakan bahwa chip ini bisa membantu sejumlah masalah neurologis, mulai dari kehilangan memori hingga stroke serta kecanduan. Selain itu, bisa juga digunakan untuk memantau kesehatan pengguna dan memperingatkan mereka apabila mengalami serangan jantung. Tahun lalu, Musk mengatakan bahwa proses implementasi perangkat Neuralink bisa semudah dan seaman operasi lasik mata. Dalam demonstrasi terbaru, Musk mengatakan proses implementasi bisa dilakukan tanpa anestesi umum dalam waktu kurang dari satu jam. Uji coba klinis pertama rencananya akan melibatkan sekelompok pasien dengan cedera tulang belakang yang parah. Untuk jangka panjang, Musk mengatakan para pasien dengan jenis cedera tersebut bisa memulihkan gerakan seperti sediakala menggunakan implan di tulang belakang.

Musk mengatakan hal paling penting yang bisa dilakukan perangkat adalah memungkinkan adanya “simbiosis AI”. Dimana simbiosis AI memungkinkan untuk otak manusia agar kedepannya dapat digabungkan dengan kecerdasan buatan yang diciptakan oleh para peneliti. Sehingga masa depan dunia menjadi lebih dapat dikendalikan oleh gabungan keinginan manusia di bumi. Elon Musk sangat menekankan akan prinsip itu demi kepentingan masa depan yang sesuai keinginan kalangan manusia. Untuk perkembangannya pada saat ini, perangkat Neuralink masih terbatas hanya untuk area permukaan otak saja. Perangkat belum dikembangkan untuk menerobos ke area tubuh lain yang lebih dalam. Di permukaan pun ada beberapa fungsi penting, seperti gerakan, penglihatan, dan pendengaran. Musk masih memiliki ambisi lain yakni merekrut teknisi robotik, elektrik, dan software untuk mengembangkan perangkat dan memperbaiki prosedur pembedahan untuk implementasinya.

Soal harga, Musk mengatakan akan cukup mahal saat perangkat diluncurkan pertama kali. Namun, dia akan mencoba menekan harga hingga beberapa ribu dollar AS. “Saya pikir harus bisa semirip mungkin dengan lasik,” kata Musk. Terlepas dari proyek pengembangan, Neuralink sendiri menghadapi masalah internal. Dikabarkan, sejak berdiri tahun 2017, perusahaan mengalami masalah manajerial. Banyak peneliti yang berada di bawah tekanan untuk segera merampungkan proyek. Mereka harus menyelesaikan proyek yang seharusnya diselesaikan dalam hitungan bulan, namun harus selesai hanya dalam hitungan minggu.

Keinginan Elon Musk agar manusia bisa telepati

Sosok CEO SpaceX dan juga Tesla, Elon Musk memiliki keinginan untuk membuat sebuah terobosan bagi kepentingan manusia. Ia ingin menggabungkan teknologi canggih program kecerdasan buatan (AI) dengan tubuh manusia hingga dapat bermanfaat untuk hal yang lebih besar. Elon Musk juga baru-baru ini menyatakan bahwa ia berencana untuk menanamkan chip berukuran yang kecil ke dalam otak manusia. Elon juga menyampaikan bahwa chip AI tersebut nantinya akan membantu kinerja kehidupan manusia. Terutama bagi orang-orang yang menderita kelumpuhan dalam bagian tubuhnya. Elon berharap suatu hari nanti, aneka teknologi yang diusahakan ini akan memberi kemudahan bagi orang yang lumpuh agar tetap dapat menggunakan ponsel pintar secara mudah bagi kesehari-hariannya.

Bahkan menurut Elon, ia juga berharap bisa memberi pengguna dari teknologi ini kemampuan yang memiliki fungsi seperti “telepati” atau alternatif berkomunikasi tanpa menggunakan indra yang sudah dimiliki tubuh. Diharapkan dengan menggunakan chip yang telah dikembangkan tersebut. Chip itu dikembangkan oleh perusahaan bernama Neuralink yang juga dimiliki Elon Musk. Perusahaan Neuralink ia dirikan pada 2016 dan ditargetkan akan mulai menguji coba dalam penanaman chip AI ke dalam otak manusia paling cepatnya sekitar akhir tahun depan. Biarpun rencananya baru akan mulai diuji coba pada akhir tahun mendatang, rencana ini belum mendapat persetujuan dari otoritas Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) yang berwenang di Amerika Serikat.

Maka dari itu rencana unik yang berbeda dari sosok Elon Musk ini pun belum bisa dipastikan untuk bisa diwujudkan sesuai jadwal yang telah direncanakan sebelumnya. Seorang Profesor Neurobiologi dari University of Pittsburgh, Andrew Schwartz juga turut mengatakan bahwa secara umum ide yang dilontarkan Elon Musk adalah suatu gagasan brilian yang tepat. Sejumlah pakar lainnya pun banyak yang meramalkan bahwa teknologi ini akan dapat mengubah hidup para penderita kelumpuhan demi bisa menjalani hidup dengan lebih baik lagi di waktu yang akan datang.

Rangkaian kegiatan yang sudah dijalankan

Elon Musk sendiri mengaku bahwa dirinya cukup stres dalam bekerja di periode akhir ini. Meskipun demikian menurut para pakar yang memberi tanggapan mengenai hal ini, penelitian semacam ini dapat dipastikan akan menemukan hambatan yang sangat besar, terutama seputar pada masalah dari pendanaan. Selain itu dibutuhkan pula pelatihan khusus bagi para pekerjanya yang melakukan proses ini, pelatihan diperlukan untuk dapat menjamin bahwa para pekerjanya dapat berhasil menanamkan chip ke dalam otak manusia sesuai prosedur yang baik dan benar. Sehingga hal ini tidak akan menimbulkan efek samping atau kerugian dalam tubuh manusia yang menjadi sampel uji coba tersebut.

Virginia deSa salah seorang profesor yang mempelajari tentang otak dan komputer secara fokus di University of California, sebuah universitas di daerah San Diego, juga turut menyatakan bahwa ide yang dilontarkan Elon Musk dan Neuralink itu terdengar sangat menjanjikan. namun tentunya hal ini baru akan disebut menjanjikan setelah proses uji cobanya dinyatakan berhasil tanpa memberi efek samping dampak negatif ke dalam tubuh manusia tersebut. Pihak Neuralink mengatakan bahwa hingga kini proyek ini masih dalam tahap proses perencanaan. Meskipun begitu Elon Musk juga terlihat cukup sangat menginginkan untuk proyek terbarunya ini bisa terlihat begitu menarik bahkan hingga disukai oleh semua orang. Demikianlah gambaran akan inovasi yang hingga saat ini sedang diusahakan oleh Elon Musk beserta para peneliti Neuralink. Bagaimana pendapatmu akan usaha untuk mempermudah kehidupan manusia ini?